Keerom – Praktik pendampingan teritorial kembali menemukan
relevansinya dalam konteks pembangunan berbasis masyarakat. Hal ini tercermin
dari keterlibatan Babinsa Koramil 1701-23/Skanto, Sertu Martinus Hesegem, yang
turun langsung membantu petani menjemur jagung hasil panen milik warga di
Kampung Intaymeliyan, Distrik Skanto, Kabupaten Keerom, Kamis (2/4/2026).
Kegiatan tersebut tidak sekadar bersifat seremonial,
melainkan merupakan bagian integral dari pola pendampingan berkelanjutan yang
dilakukan Babinsa terhadap petani, mulai dari tahap pra-produksi hingga
pascapanen. Pada fase penjemuran yang merupakan tahapan krusial dalam menjaga
kualitas komoditas sebelum distribusi kehadiran Babinsa menjadi bentuk
intervensi sosial yang berdampak langsung terhadap efisiensi kerja petani.
Lahan seluas satu hektare milik Bapak Sukali yang telah
memasuki masa panen menjadi representasi keberhasilan siklus produksi pertanian
yang didukung oleh sinergi antara aparat teritorial dan masyarakat. Dalam
konteks ini, pendampingan tidak hanya dimaknai sebagai bantuan fisik, tetapi
juga sebagai transfer nilai, khususnya dalam membangun etos kerja, ketahanan,
dan keberlanjutan praktik pertanian.
Babinsa Sertu Martinus menegaskan bahwa peran Babinsa telah
mengalami perluasan makna, dari fungsi keamanan tradisional menuju fungsi
sosial-ekonomi yang lebih adaptif. “Kehadiran kami di tengah masyarakat bukan
hanya untuk menjaga stabilitas wilayah, tetapi juga untuk memastikan bahwa
aktivitas ekonomi, khususnya sektor pertanian, dapat berjalan optimal,”
ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keterlibatan langsung
aparat di lapangan memiliki implikasi strategis terhadap penguatan ketahanan
pangan lokal. Pendampingan yang dilakukan secara konsisten memungkinkan adanya
pemantauan perkembangan pertanian sekaligus pemberian motivasi kepada petani
agar mampu mengelola lahan secara produktif dan berkelanjutan.
Dari perspektif masyarakat, kehadiran Babinsa dipandang
sebagai katalisator yang memperkuat semangat kolektif. Bapak Sukali, sebagai
pemilik lahan, mengungkapkan bahwa dukungan tersebut tidak hanya meringankan
beban kerja, tetapi juga memberikan dorongan moral yang signifikan.
“Kami merasakan manfaat langsung dari kehadiran Babinsa. Ini
bukan sekadar bantuan tenaga, tetapi juga penyemangat bagi kami untuk terus
bertani dengan lebih baik,” ungkapnya.
Dengan demikian, aktivitas pendampingan seperti ini dapat
dipahami sebagai bentuk praksis kolaboratif antara negara dan masyarakat dalam
mendorong pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan. Dalam jangka panjang, model
interaksi semacam ini berpotensi memperkuat fondasi ketahanan pangan sekaligus
meningkatkan kesejahteraan petani di wilayah Kabupaten Keerom. (Redaksi Papua)

.png)

.png)
.png)









fteqjhn.png)
Komentar
Tuliskan Komentar Anda!