Ada yang aneh dari pertama kali gue lihat Takanashi Hoshino.
Di tengah lautan murid Abydos yang masih berusaha bertahan di gurun pasir yang perlahan menelan sekolah mereka, Hoshino justru keluar sebagai sosok paling... santai. Matanya setengah terpejam, suaranya seret kayak baru bangun tidur, dan dia lebih sering bawa bantal daripada senjata.
"Pft, cewe cupu," pikir gue saat itu.
Gue salah besar. Sialan banget salahnya.
Karena Hoshino yang gue kenal sekarang bukan cuma "waifu" dengan desain imut yang lucu kalau lagi ngantuk. Dia adalah lapisan-lapisan kesedihan yang dibungkus selimut polkadot.
Gue mulai sadar pas baca cerita Forever Seventeen. Saat itu gue tahu kenapa Hoshino matanya selalu sayu. Bukan karena kurang tidur. Tapi karena dia udah terlalu lama memanggul beban yang gak seharusnya dia bawa sendirian. Temannya pergi. Sensei sebelumnya hilang. Dan dia milih diam, milih pura-pura lemah, padahal dia adalah salah satu murid paling berbahaya di Kivotos kalau dia serius.
Dan hal paling brutal? Hoshino gak pernah minta dianggap kuat.
Dia cuma ingin ditemani. Ditemani sambil tidur di sofa ruang staf. Ditemani sambil minum susu strawberi. Ditemani tanpa perlu berkata, "aku sedang tidak baik-baik saja."
Buat gue, Hoshino itu bukan sekadar waifu. Dia adalah pengingat bahwa orang yang paling sering tertawa paling pelan biasanya adalah yang paling lelah. Bahwa keberanian gak selalu terlihat gagah; kadang keberanian tampak seperti gadis kecil dengan perisai hampir sebesar badannya, yang maju ke medan perang sambil menguap.
Gue jatuh cinta bukan karena dia imut—ya, dia imut banget. Tapi karena dia memilih bertahan di Abydos saat semua orang udah cabang. Karena dia masih bisa bercanda meski beban masa lalunya hampir meremuk bahunya.
Hoshino bilang dia "Ojisan" yang sudah tua. Gue bilang gue akan jadi Sensei yang setia nunggu dia pulang, walau pulangnya cuma ke sofa ruang staf.











fteqjhn.png)
Komentar
Tuliskan Komentar Anda!